Senin, 25 November 2013

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR - BEBERAPA FAKTOR YANG MEMNYEBABKAN PENDERITAAN MANUSIA

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR



BEBERAPA FAKTOR YANG MENYEBABKAN
PENDERITAAN MANUSIA






BAB I
PENDAHULUAN




1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
     

      Manusia di dunia ini dihadapkan pada dua cobaan yaitu cobaan yang mengembirakan dan cobaan yang menyusahkan. Cobaan tersebut berupa tahapan dan rintangan yang menguji manusia dalam kehidupan apabila mampu menyelesaikan dengan baik akan mendapatkan pahala dan bila mengingkarinya ketentuan yang ada akan tenggelam dalam penderitaan di akhirat kelak.

      Terkadang manusia terbuai pada kegembiraan, padahal kegembiraan juga cobaan. Manusia seringkali tergelincir akibat keterlenaan dan berlebihan serta melampaui batas dan berunjung pada penderitaan. Sementara ada pula yang menghadapi cobaan yang menyusahkan namun tidak kuat menjalani cobaan. Orang tersebut menjadi frustasi dan melupakan emosi tanpa control. Sikap seperti ini malah semakin menambah penderitaan. Adapula ketika merasa kesaaran sudah dibatas perjuangan berhenti melakukan perjuangan padahal keinginan yang diharapkan selangkah lagi mencapai sehingga tetap pada penderitaan dan menyesal ketika harapan yang diciptakan berlalu begitu saja dihadapannya. Ada pula yang menjalani hidup dengan sikap noverkonviden ( bermain aman ), tidak mau menghadapi masalah atau lari dari masalah, namun yang terjadi mendapati pada suatu penderitaan. Ada pula yang mencoba berkelik dari masalah dan hanya mengincar kebahagiaan dunia namun di akhirat berunjung pada penderitaan.

      Manusia di dunia ini tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah, baik itu menyusahkan atau yang menggembirakan. Masalah timbul karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Proses dalam menghadapi kesenjangan seringkali dihadapkan pada lika-liku kehidupan yang sering dianggap sebgai suatu penderitaan.

      Susah maupun senang merupakan dua agenda yang silih berganti terjadi dalam kehidupan manusia. Habis susah ada senang dan habis senang ada susah. Manusia selalu untuk berusaha menjadi lebih baik. Manusia perlu menjalani proses di dunia ini untuk mencari bekal untuk akhirat dengan menjalani suka duka yang ada di dunia.

      Manusia juga dituntut untuk keimanan terhadap Tuhan, baik suka maupun duka untuk semakin mendekatkan diri. Manusia sepatutnya bukan mengeluh dan meratapi penderitaan. Namun harus bangkit mengolah penderitaan menjadi sesuatu yang bernilai lebih berharga. Dan terus belajar menelusuri kehidupan karena ada hikmah dibalik penderitaan.

      Penderitaan datang tak terduga begitupula kebahagian datang dari celah tak terduga. Sehingga manusia dituntut untuk siap siaga dalam menghadapi suka maupun duka di kehidupan ini. Dan sepatutnya kita berani menghadapi dalam menyelesaikan persoalan hidup ini. Kita perlu belajar dari pengalaman dan cepat bangkit saat terjatuh.

      Semangat juga bukansemangat yang melampaui batas , dan berusaha menenangkan hati, sabar menghadapi penderitaan dengan hati ikhlas. Karena solusi-solusi saat menghadapi penderitaan akan mudah muncul saat hati tenang dan berfikir jernis. Berbeda dengan tergesa-gesa menyebabkan solusi di depan mata terlihat jauh. Dan terkadang hal penunjang terabaikan sehingga menambah masalah baru, kita juga bukan hanya menunggu desakan solusi tapi perlu menyambut solusi.



1.2 TUJUAN PENULISAN

·         Sebagai syarat tugas mandiri mata pelajaran Ilmu Budaya Dasar
·         Mahasiswa dapat mengetahui penderitaan manusia
·         Mahasiswa dapat mengetahui beberapa factor yang menyebabkan penderitaan manusia






BAB II
PERMASALAHAN

·         Apa yang dimaksud dengan penderitaan?
·         Apa hubungan manusia dengan penderitaan?
·         Factor-faktor apa saja yang menyebabkan penderitaan manusia?
·         Bagaimanakah dampak penderitaan manusia terhadapa kelangsungan hidup manusia?
·         Bagaimana cara manusia menanggapi penderitaan manusia?


  

BAB III. PEMBAHASAN




PENGERTIAN PENDERITAAN

         Penderitaan berasal dari kata derita. Sementara itu kata derita merupakan serapan dari bahasa sansekerta, menyerap kata dhra yang memiliki arti menahan atau menanggun. Jadi dapat diartikan penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin. Penderitaan secara lahiriah dapat timbul karena adanya intensitas komposisi yang mengalami kekurangan atau berlebihan, seperti akibat kekurangan pangan menjadi kelaparan, atau akibat makan terlalu banyak menjadi kekenyangan, tidak dapat dipungkiri keduanya dapat menimbulkan penderitaan. Adapula kondisi alam yang ekstrem, seperti ketika terik matahari membuat kepanasan, atau saat kehujanan membuat kedinginan.

         Ada pula penderitaan yang secara lahiriah seperti sakit hati karena dihina, sedih karena kerabat meninggal, putus asa karena tidak lulus ujian. Atau penyesalan karena tidak melakukan yang diharapkan. Sementara yang lahir-batin dapat muncul dikarenakan penderitaan pada sisi yang satu berdampak pada sisi yang lain atau dengan kata lain penderitaan lahiriah memicu penderitaan batiniah atau sebaliknya. Misalnya akibat kehujanan badan menjadi kedinginan namun tidak ada tempat berteduh akibat mendongkol, risau atau menangis. Ada pula karena putus asa tidak lulus ujian menjadi tidak mau makan dan menimbulkan perut sakit.

         Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat dari yang terberat hingga ringan. Persepsi pada setiap orang juga berpengaruh menentukan intensitas penderitaan. Suatu kejadian dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu dianggap penderitaan bagi orang lain. Dalam artian suatu permasalahan sederhana yang dibesar-besarkan akan menjadi penderitaan mendalam apabila disikapi secara reaksioner oleh individu. Ada pula maslaah yang sangat urgen disepelekan juga dapat berakibat fatal dan menimbulkan kekacauan kemudian menjadi penderitaan.

         Manusia tidak dapat mengatakan setiap situasi masalahnya sama. Penderitaan bersifat universal dapat datang kepada siapapun tidak peduli kaya maupun miskin, tua maupun muda. Penderitaan dapat muncul kapanpun dan dimanapun.

         Penderitaan merupakan realita kehidupan manusia di dunia yang tidak dapat dielakan. Orang yang bahagia juga harus siap menghadapi tantangan hidup bila tidak yang muncul penderitaan. Dan orang yang menghadapi cobaan yang bertubi-tubi harus berpengharapan baik akan mendapatkan kebahagiaan. Karena penderitaan dapat menjadi energi untuk bangkit berjuang mendapatkan kebahagian yang lalu maupun yang akan datang.

         Akibat penderitaan yang bermacam-macam manusia dapat mengambil hikmah dari suatu penderitaan yang alami namun adapula akibat penderitaan menyebabkan kegelapan dalam kehidupan.
         Sehingga penderitaan merupakan hal yang bermanfaat apabila manusia dapat mengambil hikmah dari penderitaan yang alami. Adapun orang yang berlarut-larut dalam penderitaan adalah orang yang rugi karena tidak melepaskan diri dari penderitaan dan tidak mengambil hikmah dan pelajaran yang didapat dari penderitaan yang dialami.


HUBUNGAN MANUSIA DAN PENDERITAAN

         Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini. Dialah yang Maha Kuasa atas segala yang ada di jagad raya ini. Beliau menciptakan makhluk yang bernyawa dan tak bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.

         Makhluk bernyawa memiliki sifat ingin terpenuhi segala hasrat dan keinginannya. Perlu dipahami makhluk hidup selalu membutuhkan pembaharuan dalam diri, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup, membutuhkan air dan udara. Dan membutuhkan penyegaran rohani berupa ketenangan. Apabila tidak terpenuhi manusia akan mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak dipenuhi manusia telah melakukan penganiayaan. Namun, bila hasrat menjadi patokan untuk selalu dipenuhi akan mebawa pada kesesatan yang berunjung pada penderitaan kekal di akhirat.

         Manusia sebagai makhluk yang berakal dan berfikir, tidak hanya menggunakan insting namun juga pemikirannya dan perasaannya. Tidak hanya naluri namun juga nurani.

         Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri-sendiri secara mutlak. Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesusahan dalam penghidupannya, dan terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupannya.

         Manusia memerlukan rasa aman agar dirinya terhidar dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia akan mengalami rasa sakit. Manusia selalu berusaha memahami kehendak Allah, karena bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak menderita di dunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan di dalam neraka.

         Manusia di dunia melakukan kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa sakti. Muncul penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahannya. Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan mebawa pada penderitaan di akhirat.

         Banyak yang salah kaprah dalam menyikapi penderitaan. Ada yang menganggap sebagai menikmati rasa sakit sehingga tidak beranjak dari kesesatan. Sangat terlihat penderitaan memiliki kaitan dengan kehidupan manusia berupa siksaan, kemudian rasa sakit, yang terkadang membuat manusia mengalami kekalutan mental. Apabila manusia tidak mampu melewati proses tersebut dengan ketabahan, di akhirat kelak dapat menggiring manusia pada penyiksaan pada pedih yang dalam neraka. Adapun akan lebih jelas akan dibahas sebagai berikut.

1.    Siksaan
         Siksaan atau penyiksaan ( bahasa inggris: torture) digunakan untuk merunjuk pada penciptaan rasa sakti untuk menghancurkan kekerasa hati korban. Siksaan juga dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. Apabila berbicara tentang siksaan, terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mendirikan bulu kudu kita.
         Siksaan pada manusia juga dapat menimbulkan kreatifitas bagi yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan langsung atau tidak langsung. Hal itu terlihat dari banyak cerpen, novel, berita, atau film yang mengisahkan tentang siksaan. Dengan menyimak hasil seni atau berita kita dapat mengambil arti manusia, harga diri, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, tetapi juga hati yang telah dikuasai hawa nafsu, godaan setan, tidak mengenal perikemanusiaan dan sebagainya.
         Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadism, pemaksaan informasi, atau  mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalukan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.

         Siksaan yang sifatnya psikis tersebut dapat menimbulkan gejala dapat penderita bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain: claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, kegagalan. Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus-menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.

         Di dalam kitab suci diterangkan jenis dan ancaman siksaan yang dialami manusia di akhirat nanti, yakni siksaa bagi orang-orang musyrik, syirik, dengki, memfitnah, mencuri, makan harta anak yatim dan sebagainya. Antara lain ayat 40 surat Al Ankahut menyatakan:
“masing-masing bangsa itu kami siksa dengan ancaman siksaan, karena dosa-dosanya. Ada diantara kami hujani dengan batu-batu kecil seperti kaum Aad, ada yang diganyang dengan halilintar bergemuruh dahsyat seperti kaum Tsamud, ada pula yang kami benamkan ke dalam tanah seperti Qorun, dan ada pula yang kami tenggelamkan seperti kaum Nuh. Dengan siksaan-siksaan itu, Allah tidak akan menganiaya mereka. Namun, mereka jugalah yang menganiaya diri- sendiri , karena dosa-dosanya.”
      Siksaan yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi dan banyak dibaca di berbagai media massa. Bahkan kadang-kadang ditulis di halaman pertama dengan judul huruf besar, dan kadang-kadang disertai gambar si korban. Adapaun siksaan bersifat psikis dapat diklasifi seperti:

-          Kebimbangan, siksaan ini terjadi ketika manusia sulit untuk menentukan pilihan yang mana akan mereka ambil dan mereka tidak ambil. Situasi ini sangat membuat psikis manusia tidak stabil dan butuh pertimbangan yang amat sangat sulit.
-          Kesepian, merupakan perasaan sepi yang amat sangat tidak diinginkan oleh setiap manusia. Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang bersosial, hidup bersama dan tidak hidup seorang diri. Factor ini dapat mengakibatkan depresi kejiwaan yang berat dan merupakan siksaan paling mendalam yang menimpa rohani manusia.
-          Ketakutan, adalah suatu reaksi psikis emosional terhadap sesuatu yang ditakuti oleh manusia.
-          Rasa takut ini dapat menimbulkan traumatic yang amat mendalam. Dampaknya manusia bisa kehilangan akal pikirannya dan membuat manusia berkejatuhan mental.

2.    Rasa sakit
      Rasa sakit adalah rasa yang dialami manusia akibat menderita suatu penyakit. Rasa sakit ini dapat menimpa setiap manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tua-muda, orang bodoh-pintar, bahkan dokter sekalipun kesemuanya tidak dapat menghindarkan dari rasa sakit.
      Penderitaan, rasa sakti, dan siksaan merupakan rangkaian sebab akibat, karena siksaan, orang merasa sakit, dank arena merasa sakit orang menderita. Atau karena penyakitnya tak sembuh-sembuh , ia merasa tersiksa hidupnya, dan mengalami penderitaan.
3.    Kekalutan Mental
      Penderitaan batin dan ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah ngangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah:
·         Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
·         Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.

a.    Tahap-tahap Gangguan Kejiwaan
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah:
·         Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
·         Usaha mempertahankan diri dengan cara negative, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah ; pada orang yang tidak menderita gangguan kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan problemnya, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan melarikan diri dan persoalan tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
·         Kekalutan merupakan titik patah ( mental breakdown ) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.

b.    Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental dapat banyak disebutkan antara lain sebagai berikut:
·         Kepribadian yang lemah akibat kondiri jasmani atau mental yang kurang sempurna ;  hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
·         Terjadinya konflik social budaya ; terjadinya konflik social budaya diakibatkan norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi. Misalnya orang pedesaan yang berat menyesuaikan diri dengan kehidupan kota.
·         Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan social ; over acting sebagai overcompensatie.





c.    Proses-proses kekalutan mental
      Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative.
      Positif : trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebagai usaha agar tetap survey dalam hidup, misalnya rajin beribadah ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya.
      Negative: trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk frustasi antara lain:
·         Agresi berupa kemarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tidak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi Hypertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitanya.
·         Regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan.
·         Fiksasi adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama ( tetap ) misalnya dengan membisu.
·         Proyeksi merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative kepada orang lain.
·         Identifikasi adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya.
·         Narsisme adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior daripada orang lain.
·         Autisme ialah menutup diri secara total dari dunia rill, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus ke sifat yang sinting.
Penderitaan kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti:
1.    Kota-kota besar.
2.    Anak-anak muda usia.
3.    Wanita.
4.    Orang yang tidak beragama.
5.    Orang yang terlalu mengejar materi.
            Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut:
·         Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia.
·         Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan.

              Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negative ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawan atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup dan sebagainya. Sikap positive yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positive biasanya kreatif, tidak mudah menyerah bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti. Misalnya sifat anti kawin paksa, ia berjuang menetang kawin paksa dan lain-lain.
4.    Neraka

            Berbicara  tentang neraka, kita selalu ingat dosa dan terbayang dalam ingatan, siksaan yang luar biasa dan penderitaan hebat. Jelas bahwa antara neraka, siksaan, rasa sakit, dan penderitaan memiliki suatu rangkaian sebab-akibat.

           Manusia masuk neraka karena dosanya. Oleh karena itu, bila kita berbiacara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa. Berbicara tentang dosa berarti berbicara kesalahan.

PENDERITAAN DAN SEBAB-SEBABNYA
      Penderitaan dapat muncul dari berbagai sebab. Penyebab tersebut kadang datang tidak terduga. Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut.
1.    Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
               Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut nasib buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki manusia supaya menjadi baik. Dengan kata lain, manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya. Perbedaan nasib buruk dan takdir, kalah takdir Tuhan yang menentukan sedangkan nasib buruk itu manusia penyebabnya.

2.    Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan
              Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal dan optimism dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.

PENGARUH PENDERITAAN

               Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa “ sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna “,” nasi sudah menjadi bubur “. Kelanjutan dari sikap negative ini dapat timbul sikap anti.

               Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan melainkan perjuangan membebaskan diri dan penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti.


1.    PENDERITAAN DAN KENIKMATAN

              Tujuan manusia yang paling popular adalah kenikmatan, sedangkan penderitaan adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh manusia. Oleh karena itu, penderitaan harus dibedakan dengan kenikmatan, dengan penderitaan itu sendiri sifatnya ada yang lama dan ada yang sementara. Hal ini berhubungan dengan penyebabnya. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya antara lain: penderitaan karena alasan fisik, seperti bencana alam, penyakit, dan kematian ; penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam hidup, meninggalnya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya. Semua ini menyangkut kehidupan diniawi dan tidak mungkin disingkarkan dari dunia dan dari kehidupan manusia.

              Penderitaan dan kenikmatan muncul karena alasan “ saya suka itu “ atau “ sesuatu itu menyakitkan “. Kenikmatan dirasakan apabila yang dirasakan sudah didapat dan penderitaan dirasakan apabila sesuatu yang menyakitkan menimpa dirinya. Aliran yang ingin secara mutlah menghindari penderitaan adalah hedonism, yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan itu merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, dan kunci menuju hidup baik. Penafsiran hedonism ada dua macam, yaitu:

·         Hedonism psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
·         Hedonism etis yang berpandangan bahwa semua tindakan ‘harus’ ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.
              Kritik terhadap hedonism ialah bahwa tidak semua tindakan manusia hedonistis, bahkan banyak orang yang tampaknya merasa bersalah atau kenikmatan-kenikmatan mereka. Dan hal ini menyebabkan mereka mengalami penderitaan. Pandangan Hedonis psikologis ialah bahwa semua manusia dimotivasi oleh pengejaran kenikmatan dan penghindaran penderitaan. Mengejar kenikmatan sebenarnya tidak jelas, sebab ada kalanya orang menderita dalam rangka latihan-latihan atau menyertai apa yang ingin dicapai atau dikejarnya.
              Kritik Aristoteles ialah bahwa puncak etika bukan pada kenikmatan, melainkan pada kebahagiaan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kenikmatan bukan tujuan akhir, melainkan hanya “pelengkap” tindakan. Berbeda dengan John Stuart Mill yang membela Hedonisme melalui jalan terhormat utilitarisme yaitu membela kenikmatan sebagai kebaikan tertinggi. Suatu tindakan itu baik sejauh ia lebih “berguna” dalam pengertian ini, yaitu sejauh tindakan memaksimalkan kenikmatan dan meminimalkan penderitaan.





      PENDERITAAN DAN KASIHAN

              Kembali kepada masalah penderitaan, muncul Nietzsche yang memberontak terhadap pernyataan yang berbunyi: “ Dalam menghadapi penderitaan itu, manusia merasa kasihan”. Menurut Nietzsche, pernyataan ini tidak benar, penderitaan itu adalah suatu kekurangan vitalitas. Selanjutnya ia berkata, “sesuatu yang vital dan kuat tidak menderita, oleh karenanya ia dapat hidup terus dan ikut mengembangkan kehidupan semesta alam. Orang kasihan adalah yang hilang vitalitasnya rapuh dan runtuh. Kasihan itu merugikan perkembangan hidup “. Sehingga dikatakannya bahwa kasihan adalah pengutusan penderitaan. Pernyataan Nietzsche ini ada kaitannya dengan latar belakang kehidupannya yang penuh penderitaan. Ia mencoba memberontak terhadap penderitaan sebagai realitas dunia, ia tidak menerima kenyataan. Seolah-oleh ia berkata, penderitaan jangan masuk ke dalam hidup dunia. Oleh karena itu, kasihan yang tertuju kepada manusia harus ditolak, katanya.

              Pandangan Nietzsche tidak dapat disetujui karena: pertama, dimana letak humanisnya dan aliran existensialisme. Kedua bahwa penderitaan itu ada dalam hidup manusia dan dapat diatasi dengan sikap kasihan. Ketiga, tidak mungkin orang yang membantu penderita, menyingkir dan senang bila melihat orang yang menderita. Bila demikian, maka itu yang disebut sikap sadism. Sikap yang wajar adalh menaruh kasihan terhadap sesama manusia dengan menolak penderitaan, yakni dengan berusaha sekuat tenaga untuk meringankan penderitaan dan bila mungkin menghilangkannya.

3.    Penderitaan dan noda dosa pada hati manusia

              Penderitaan juga dapat timbul akibat noda dosa pada hati manusia ( Al-Ghazali, abad ke-11). Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyaa ‘ Ulumudin, orang yang suka iri hati, hasad, dengki akan menderita hukuman lahir-batin, akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterima-kasih. Padahal dunia tidak berkekurangan untuk orang-orang di segala zaman. Allah SWT telah member ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya, karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasad, dengki selama hidupnya sampai akhir kelak.

              Untuk mengobati hati yang menderita ini, sebelumnya perlu diketahui tanda-tanda hati yang sedang gelisah ( hati yang sakit ). Perlu diketahui bahwa setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna ia kacau dan gelisah. Ciri hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengna sempurna ia kacau dan gelisah. Cirri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, bermakrifat, mencintai Allah dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.

              Hal lain yang menimbulkan derita terhadap seseorang adalah merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisan, atau derita. Maka ia pun berusaha menjauhkan diri dari lingkup kesadaran atau perasaannya. Akhirnya keinginan atau dorongan itu tertahan dalam alam bawah sadar. Namun, sering orang itu mengekspresikan keinginan atau dorongan itu secara tidak sadar atau dengan ucapan yang keliru. Atau, apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka

CARA MANUSIA MENGHADAPI PENDERITAAN

              Manusia memiliki berbagai cara menghadapi penderitaan mulai dari berekspresi dengan seni, meminta bantuan orang lain. Hingga manusia merasa mampu melewati penderitaan tersebut. Selagi nyawa ada manusia tak akan pernah berhenti berjuang mengatasi masalah.

1.    Penderitaan dan perjuangan

              Setiap manusia pasti mengalami penderitaan, baik berat ataupun ringan. Penderitaan adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama sekali.

              Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekuensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita.karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidup.

              Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dan bahaya dan malapetaka. Manusia hanya merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Kelalaian manusia merupakan sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan. Penderitaan yang terjadi selain dialami sendiri oleh yang bersangkutan, mungkin juga dialami oleh orang lain. Bahkan mungkin terjadi akibat perbuatan atau kelalaian seseorang, orang lain atau masyarakat menderita.

2.    Penderitaan, media masa dan seniman.

              Beberapa sebab lain yang menimbulakn penderitaan manusia ialah kecelakaan, bencana alam, bencana perang, dan lain-lain. Berita mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran Koran, layar TV, pesawat, radio, dengan maksud supaya semua orang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh penderitaan manusia. Dengan demikian dapat menggungah hati manusia untuk berbuat sesuatu. Nyatanya tidak sedikit bantuan dari para dermawan dan sukarelawan berupa material atau tenaga untuk meringankan penderitaan dan penyelamatan mereka dari musibah ini. Bantuan-bantuan ini dilakukan secara perserorangan ataupun melalui organisasi-organisasi social, kemudian dikirimkan atau diantarkan langsung ke tempat-tempat kejadian dan tempat-tempat pengungsian. Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat.

              Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menetukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni sehingga para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni.


BAB IV
PENUTUP



      4.1  KESIMPULAN

Dalam materi ini kita dapat mengetahui tentang apa itu penderitaan, kehidupan manusia tidak akan datar pasti bergelombang maksudnya pasti ada yang menyenangkan dan menyusahkan. Penderitaan juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan manusia, rasa sakit, siksaan menuntut manusia untuk bangkit menjadi lebih baik. Namun, ada yang tidak kuat sehingga terjadi kekalutan mental. Apabila manusia tidak mampu melewati sesuati dengan khaidah agama manusia akan mendapat penderitaan di akhirat berupa penyiksaan di dalam neraka.

Dalam menghadapi penderitaan setiap orang pasti melakukan hal yang berbeda untuk menahan atau menyikapinya, ada yang menyikapinya dengan tindakan positif dan negative, misalnya yang positif ia akan lebih berusaha agar tidak mendapatkan penderitaan yang ia sudah alami bahkan bisa menjadikannya sebagai sebuah peluang dalam melakukan sebuah inovasi baru, sedangkan yang negative ia akan trauma dan membuat kondisi ia menjadi labil karena terlalu berlebihan menyikapi penderitannya dan bahkan sampai ingin bunuh diri. Untuk itu kesehatan rohani setiap orang harus dijaga agar terhindar dari kekalutan mental yang bisa merusak psikis kita.

 4.2 SARAN

Dalam menghadapi penderitaan sebaiknya tidak dihadapi dengan tergesa-gesa, berpikirlah dulu baru bertindak, karena segala sesuatu perbuatan yang tergesa-gesa biasanya mendatangkan hasil yang tidak diharapkan, bahkan seringkali bisa menciptakan penderitaan yang baru.






DAFTAR PUSTAKA


·         Sinaulan  Jeffry H., Ilmu Budaya Dasar, Diktat Kuliah, Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta, 2011.
· Manusia dan Penderitaan. WordPress. Available at : http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/manusia-dan-penderitaan/ ( accessed November 25, 2012 ).
·         Pradopo D,dkk. Wajah Indonesia Dalam Sastra Indonesia : Puisi 1960-1980, Yogyakarta : PPBSID; 1992.
·         Singgih Riyanto T.P. Proyeksi Astral Praktis, Yogyakarta : Media Pressindo; 2003.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar